Bedah Buku UBB Dorong Generasi Muda Merawat Budaya Lokal melalui Sastra
BANGKA, UBB — Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat, keberadaan karya sastra dapat menjadi salah satu ruang untuk menjaga cerita, budaya, dan identitas lokal agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya. Hal tersebut menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam kegiatan Bedah Buku Tahun 2026 yang diselenggarakan UPA Perpustakaan Universitas Bangka Belitung (UBB).
Mengangkat tema “Dari Halaman ke Kehidupan: Merawat Cerita, Budaya, dan Identitas Lokal melalui Novel”, kegiatan yang berlangsung di Balai Besar Peradaban UBB, Kamis (3/9/2026) tersebut diikuti sebanyak 198 peserta. Peserta berasal dari sivitas akademika UBB serta sejumlah sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dan organisasi di Bangka Belitung.
Kegiatan ini diikuti antara lain oleh perwakilan dari SMK Negeri 5 Pangkalpinang, SMA Negeri 1 Pangkalpinang, SMA Negeri 1 Merawang, SMK Negeri 2 Pangkalpinang, SMP Negeri 2 Merawang, SMP Negeri 1 Pangkalpinang, Universitas Pertiba (UNIPER), Universitas Muhammadiyah (UNMUH), Komunitas Read Aloud Pangkalpinang, SMK Negeri 2 Sungailiat, dan Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) Bangka Belitung.
Merawat Ingatan melalui Karya Sastra
Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan UBB, Henny Helmi, dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan, menyampaikan bahwa perkembangan teknologi dan perubahan zaman menghadirkan tantangan tersendiri bagi keberlangsungan budaya lokal.
Menurutnya, berbagai tradisi, istilah dalam bahasa daerah, maupun kebiasaan masyarakat yang dituangkan dalam karya sastra dapat menjadi bagian penting dalam menjaga ingatan kolektif dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
“Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, budaya lokal akan menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Melalui tradisi-tradisi yang disampaikan lewat buku, istilah-istilah dalam bahasa daerah, atau kebiasaan masyarakat yang ditulis dalam bentuk novel, kita dapat menjaga agar hal tersebut tidak terlupakan,” ujar Henny.
Ia menambahkan, keberadaan karya sastra dan kegiatan yang mempertemukan pembaca dengan penulis merupakan langkah positif dalam merawat pengetahuan dan pengalaman masyarakat.
Menurut Henny, novel tidak hanya dapat dipandang sebagai karya untuk dibaca, tetapi juga sebagai ruang untuk menyimpan dan meneruskan ingatan kepada generasi selanjutnya.
“Kami sangat menyambut baik adanya novel dan kegiatan ini karena bagi kami novel dapat menjadi ruang untuk merawat ingatan, ingatan yang kita turunkan kepada generasi-generasi berikutnya,” katanya.
Pesan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kegiatan membaca dapat memiliki makna yang lebih luas. Membaca karya sastra bukan hanya aktivitas memahami cerita, tetapi juga dapat menjadi cara untuk mengenali kehidupan, nilai, tradisi, serta identitas masyarakat yang direpresentasikan dalam sebuah karya.
Membaca Lebih Dekat, Memahami Lebih Dalam
Sesuai dengan tema kegiatan, sesi utama diisi dengan bedah buku yang menghadirkan dua penulis dan sastrawan sebagai narasumber. Ian Sancin, penulis dan sastrawan, membahas novel Yin Galema, sedangkan Toni Pratama, penulis buku Cinta dalam Tudung Saji, hadir sebagai narasumber kedua.
Diskusi dipandu oleh Windy Garini, S.Pd., Founder Komunitas Read Aloud Pangkalpinang sekaligus guru SMK Negeri 5 Pangkalpinang, sebagai moderator.
Pembahasan tidak hanya berfokus pada isi dan proses kreatif penulisan novel, tetapi juga mengajak peserta melihat keterkaitan antara karya sastra dengan kehidupan masyarakat. Interaksi antara penulis dan peserta berlangsung melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang memberikan ruang bagi peserta untuk menyampaikan pertanyaan, pandangan, serta pengalaman mereka dalam membaca maupun memahami karya sastra.
Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang pendidikan dan komunitas turut memperluas ruang dialog. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan literasi dapat mempertemukan pembaca dari berbagai kelompok untuk membicarakan pengetahuan, pengalaman, dan persoalan yang terkandung dalam sebuah bacaan.
Memperluas Makna Perpustakaan
Bagi UPA Perpustakaan UBB, penyelenggaraan Bedah Buku Tahun 2026 merupakan bagian dari program pengembangan literasi sekaligus upaya memperluas makna perpustakaan di lingkungan perguruan tinggi.
Perpustakaan tidak hanya berperan menyediakan bahan bacaan, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi sivitas akademika dan masyarakat untuk bertemu, berdiskusi, bertukar gagasan, serta menemukan pengetahuan baru dari sebuah bacaan.
Melalui kegiatan seperti bedah buku, perpustakaan berupaya mendekatkan aktivitas membaca dengan pengalaman yang lebih hidup dan relevan. Buku tidak berhenti sebagai koleksi yang tersimpan di rak, tetapi dihadirkan sebagai sumber dialog dan pembelajaran.
Pendekatan tersebut menjadi penting di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang semakin cepat dan beragam. Kehadiran berbagai platform digital membuat akses terhadap informasi semakin mudah, tetapi pada saat yang sama membutuhkan kemampuan untuk memilih, memahami, dan memaknai informasi secara lebih kritis.
Dalam konteks tersebut, karya sastra menawarkan ruang yang berbeda. Sebuah novel dapat menghadirkan pengalaman manusia, nilai budaya, bahasa, tradisi, dan persoalan kehidupan dalam bentuk cerita yang lebih dekat dengan pembacanya.
Karena itu, Bedah Buku Tahun 2026 diharapkan tidak berhenti pada diskusi yang berlangsung dalam satu kegiatan. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan ketertarikan untuk membaca lebih banyak, mengenal cerita dari daerah sendiri, serta melihat bahwa di balik sebuah novel terdapat kehidupan dan pengetahuan yang dapat dipelajari.
Dari Buku Menuju Kehidupan
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan kepada narasumber dan moderator, dilanjutkan dengan kuis menggunakan Kahoot, penyerahan doorprize, dan foto bersama.
Antusiasme peserta dalam mengikuti diskusi dan rangkaian kegiatan menjadi bagian dari upaya membangun pengalaman literasi yang lebih interaktif. Melalui kegiatan tersebut, perpustakaan tidak hanya mempertemukan pembaca dengan buku, tetapi juga mempertemukan pembaca dengan penulis, gagasan, dan pengalaman yang terkandung di dalamnya.
Bedah Buku Tahun 2026 menjadi salah satu bentuk komitmen UPA Perpustakaan UBB dalam mengembangkan budaya literasi di lingkungan perguruan tinggi dan masyarakat. Melalui ruang-ruang dialog seperti ini, membaca diharapkan tidak berhenti pada aktivitas memperoleh informasi, tetapi berkembang menjadi proses memahami kehidupan, mengenali budaya, dan merawat identitas lokal untuk generasi mendatang. (Perpustakaan ubb)
